Tuesday, 18 February 2014

Janji Allah dan Rasulullah Tentang Masa Depan Islam




Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (QS At-Taubah : 33)
Kita patut merasa gembira dengan janji yang telah diberikan oleh Allah Swt melalui firman-Nya itu, bahwa Islam dengan kearifan dan kebijaksanaannya itu mampu mengalahkan agama-agama lain. Namun tidak sedikit yang mengira bahwa janji tersebut telah terwujud pada masa Nabi Salallahu Alaihi wa Salam , masa Khulafaur-Rasyidin dan pada masa khalifah-khalifah sesudahnya yang bijaksana. Padahal kenyataannya tidak demikian. Yang sudah terrealisasi saat ituhanyalah sebagian kecil dari janji di atas, sebagaimana diisyaratkan oleh Rasul Salallahu Alaihi wa Salam melalui sabdanya:
“Malam dan siang tidak akan sirna sehingga Al-Latta dan Al-‘Uzza telah disembah. Lalu Aisyah bertanya: “Wahai Rasul, sungguh aku mengira bahwa takkala Allah menurunkan firman-Nya “Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai, hal itu telah sempurna (realisasinya).”Belau menjawab: “Hal itu akan terealisasi pada saat yang ditentukan oleh Allah.” [Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam-Imam yang lain]
Banyak hadits-hadits lain yang menjelaskan masa kemenangan Islam dan tersebarnya ke berbagai penjuru. Dari hadits-hadits itu tidak diragukan lagi bahwa kemenangan Islam di masa depan semata-mata atas izin pertolongan dari Allah Swt, dengan catatan harus tetap kita perjuangkan, itu yang penting. Berikut ini akan saya tampilkan beberapa hadits yang saya harapkan dapat membakar semangat para pejuang Islam dan dapat dijadikan argumentasi untuk menyadarkan mereka yang fatalis tanpa mau berjuang sama sekali.
“Allah telah menghimpun (mengumpulkan dan menyatukan) bumi ini untukku. Oleh karena itu aku dapat menyaksikan belahan Bumi Barat dan Timur. Sunggu kekuasaan umatku akan sampai ke daerah yang dikumpulkan (diperlihatkan) kepadaku itu.”
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim (8/171), Imam Abu Daud (4252), Imam Turmudzi (2/27) yang menilainya sebagai hadits shahih, Imam Ibnu Majah (2952) dan Imam Ahmad dengan dua sanad.
Ada hadits-hadits lain yang lebih jelas dan luas yaitu:
“Sesungguhnya agama Islam ini akan sampai ke bumi yang dilalui oleh malam dan siang. Allah tidak akan melewatkan seluruh kota dan pelosok desa, kecuali memasukkan agama ini ke daerah itu, dengan memuliakan yang mulai dan merendahkan yang hina. Yakni memuliakannya dengan Islam dan merendahkannya dengan kekufuran.”
Imam Ibnu Hibban meriwayatkannya dalam kitab Shahih-nya (1631, 1632). Sedang Imam Abu ‘Arubah meriwayatkannya dalam kitab Al-Montaqa minat-Thabaqat (2/10/1).
Tidak diragukan lagi bahwa tersebarnya agama Islam kembali kepada umat Islam sendiri. Oleh karena itu mereka harus memiliki kekuatan moral, material dan persenjataan hingga mampu melawan dan mengalahkan kekuatan orang-orang kafir dan orang-orang durhak Inilah yang dijanjikan oleh Rasulullah Saw :
“Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Qubai. Ia menuturkan “(pada suatu ketika) kami bersama Abdullah Ibnu Amer Ibnu Al-Ash. Dia ditanya tentang mana yang akan terkalahkan lebih dahulu, antara dua negeri, Konstantinopel atau Romawi. Kemudian ia meminta petinya yang sudah agak lusuh. Lalu ia mengeluarkan sebuah kitab.” Abu Qubai melanjutkan kisahnya: Lalu Abdullah menceritakan: “Suatu ketika kami sedang menulis disisi Rasulullah Salallahu Alaihi wa Salam. Tiba-tiba Beliau ditanya: “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Constantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab: “Kota Heraclius-lah yang akan terkalahkan lebih dahulu.” Maksudnya adalah Konstantinopel.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (II/176), Ad-Darimi (I/126), Ibnu Abi Suaibah dalam Al-Mushan (II/47, 153). Abu Amer Ad-Dani di dalam As-Sunanul Maridah fil-Fitaan (Hadits-hadits tentang Fitnah), Al Hakim (III/422 dan IV/508) dan Abdul Ghani Al-Maqdisi dalam Kitabul Ilmi (II/30). Abdul Ghani bahwa hadits ini hasan sanadnya. Sedangkan Imam Hakim menilainya sebagai hadits shahih. Penilaian Al-Hakim itu sangat disetujui oleh Adz-Dzahabi.
Kata Rumiyyah dalam hadits di atas maksudnya adalah Roma, ibukota Italy sekarang ini, sebagaimana bisa kita lihat di dalam Mu’jamul BuldanI (Ensiklopedi Negara).
Sebagaimana kita ketahui, bahwa kemenangan pertama ada di tangan Muhammad Al-Fatih Al-Utsmani. Hal ini terjadi setelah lebih dari delapan ratus tahun Nabi Salallahu Alaihi wa Salam menyabdakan hadits di atas. Kemenangan kedua pun akan segera terwujud atas seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala , sebagaimana firman-Nya:
”Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al Quran setelah beberapa waktu lagi.“ (QS Shaad : 88).
Tidak diragukan lagi bahwa kemenangan kedua mendorong adanya kebutuhan terhadap Khalifah yang tangguh. Hal inilah yang telah diberitakan oleh Rasulullah Salallahu Alaihi wa Salam melalui sabdanya:
“Kenabian telah terwujud di antara kamu sesuai dengan kehendak Allah. Kemudian Dia akan menghilangkannya sesuai dengan kehendak-Nya, setelah itu ada khalifah yang sesuai dengan kenabian tersebut, sesuai dengan kehendak-Nya pula. Kemudian Dia akan menghapusnya juga sesuai dengan kehendak-Nya. Setelah itu ada seorang raja diktator bertangan besi, dan semua berjalan sesuai dengan kehendak-Nya pula. Lalu Dia akan menghapusnya jika menghendaki untuk menghapusnya. Kemudian ada khalifah yang sesuai dengan tuntunan Nabi. Lalu Dia diam.“ [Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (IV/273)]
Selanjutnya hadits yang berisi tentang berita gembira dari Rasulullah mengenai kembalinya kekuasaan kepada kaum Muslimin dan tersebarnya pemeluk Islam di seluruh penjuru dunia hingga dapat membantu tercapainya tujuan Islam dan menciptakan masa depan yang prospektif dan membanggakan hingga meliputi bidang ekonomi dan pertanian. Hadits yang dimaksud sabda Nabi :
“Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum tanah Arab menjadi tanah lapang yang banyak menghasilkan komoditas penting dan memiliki pengairan yang memadai.”
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim (3/84), Imam Ahmad (2/703, 417), dari hadits Abu Hurairah.
Berita-berita gembira ini terealisasi di beberapa kawasan Arab yang telah diberi karunia oleh Allah berupa alat-alat untuk menggali sumber air dari dalam gurun pasir. Disana bisa kita lihat adanya inisiatif untuk mengalirkan air dari sungai Eufrat ke Jazirah Arab. Saya membaca berita ini dari beberapa surat kabar lokal. Hal ini mungkin akan menjadi kenyataan. Dan selang beberapa waktu kelak, akan benar-benar terwujud dan bisa kita buktikan.
Selanjutnya yang perlu diketahui dalam hubungannya dengan masalah ini adalah sabda Nabi  :
”Tidak akan datang kepadamu suatu masa kecuali masa sesudahnya akan lebih buruk, sampai kalian bertemu dengan Tuhanmu dan datangnya hari kiamat.“
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Al-Fitan dari hadits Anas secara marfu’.
Hadits ini selayaknya dipahami dengan membandingkan dengan hadits-hadits lain yang terdahulu dan hadits lain (yang ada hubungannya). Seperti halnya hadits-hadits tentang Al-Mahdy dan turunnya Nabi Isa as. Hadits-hadits itu menunjukkan bahwa hadits ini tidak mempunyai arti secara umum, tetapi mempunyai arti khusus (sempit). Oleh karena itu kita tidak boleh memahaminya secara umum (apa adanya), sehingga menimbulkan keputusasaan yang merupakan sifat yang harus dibuang jauh dari orang mukmin. Sebagaimana firman Allah Swt :
“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.“(QS Yusuf : 87)

Hadits-hadits tentang perkara masa depan Rasulullah yang telah terbukti kebenarannnya



Hadits-hadits tentang perkara masa depan Rasulullah yang telah terbukti kebenarannnya








Di antara berita masa depannya tersebut, Rasulullah menceritakan tentang perjuangan umatnya di masa depan dan memastikan kemenangan mereka. Berkata Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Kerajaan Persia akan hancur, dan takkan ada lagi Raja Persia setelahnya. Kekaisaran Romawi juga akan hancur, dan tak ada lagi Kaisar Romawi setelahnya. Kalian akan membagi harta simpanan mereka di jalan Allah. Karena itu, perang adalah tipu daya.
(HR Bukhari dan Muslim)

Ada beberapa hadis lain lagi yang menceritakan bahwa Islam akan mengalahkan Romawi dan Persia. Kita tahu dari sejarah, setelah wafatnya Rasulullah tentara Islam di bawah Panglima Sayidina Khalid bin Walid ra. memberikan pukulan akhir pada pasukan Romawi di Syam dan dengan itu takluklah seluruh jajahan Romawi di Syam yang saat ini meliputi Syria, Jordan, Palestina dan Libanon.

Di masa pemerintahan Khalifah Umar ra. pasukan Islam di bawah Panglima Sayidina Sa’ad bin Abi Waqqash menaklukkan Persia. Saat itu bangsa Persia sebagian besar adalah penganut agama Majusi, penyembah api. Mereka beribadah di kuil-kuil api abadi mereka. Semasa lahir Rasulullah, api abadi mereka yang terbesar yang telah menyala ribuan tahun tiba-tiba padam.

Bermula dari penaklukan Iraq, pasukan Islam terus menaklukkan ibu kota Persia, Madain hanya dalam tempo 2 tahun. Sayidina Sa’ad ra. dengan pasukannya menaklukkan pasukan Persia yang sangat terlatih di bawah panglimanya Rustum yang sangat berpengalaman. Mereka merebut Qadisiyah dalam sebuah pertempuran yang sangat bersejarah karena untuk pertama kalinya pasukan Islam menghadapi tentara bergajah. Tapi karena bantuan Allah, pasukan Persia dapat dikalahkan. Dalam pertempuran ini pasukan Islam berjumlah sekitar 20.000 orang melawan lebih 200.000 prajurit Persia. Dalam pasukan Islam itu terdapat lebih 400 Sahabat Rasulullah dan di antaranya ada 99 orang Ahli Badar (peserta perang Badar).

Setelah merebut Babylon dan Madain, Istana Kisra Persia diduduki dan pasukan Islam mendapat ghanimah (rampasan perang) yang sangat besar. Mungkin yang terbesar dalam sejarah. Orang-orang Persia pun secara berangsur-angsur selama 200 tahun menukar agamanya menjadi agama Islam karena takjub dengan akhlak umat Islam. Maka tunailah apa yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya SAW.

Dalam hadis lain Rasulullah SAW ada menyebut:
Konstantinopel akan jatuh di tangan seorang pemimpin yang sebaik-baik pemimpin, tentaranya sebaik-baik tentara, dan rakyatnya sebaik-baik rakyat.” (Al Hadis)

Para Sahabat Rasulullah SAW, tabi’in dan tabi’ut tabi’in terus berusaha membuktikan sabda Rasulullah ini. Mereka berulang kali mengadakan ekspedisi untuk menaklukkan Konstantinopel. Tercatat dari kalangan Sahabat ra. Sayidina Abu Ayyub Al-Anshari ra. yang ketika itu telah berusia lebih 80 tahun ikut berusaha menagih janji Rasul tersebut. Beliau syahid di medan perang dan dimakamkan di dekat tembok benteng Konstantinopel. Dari kalangan tabi’in ada Ibrahim bin Ad-ham rh. yang datang ke sana untuk membuktikan janji Rasulullah dan beliau pun syahid.

Ternyata janji Rasulullah itu baru terbukti 800 tahun kemudian di tangan Sultan Muhammad Al-Fateh dari Dinasti Usmaniyah. Dengan jatuhnya Konstantinopel, jatuhlah seluruh wilayah Kekaisaran Romawi Timur ke tangan Islam.

Ayah Muhammad Al-Fateh, Sultan Murad telah mendapat kabar dari Syeikh Syamsuddin Al-Wali bahwa anaknya yang baru lahir itu yang akan menepati janji Rasulullah (lihat Kisah Teladan - red). Karena itu beliau telah mempersiapkan Muhammad Al-Fateh sejak kecil dengan diserahkan didikan agamanya pada Syeikh Syamsuddin dan didikan militernya pada panglima-panglima Turki yang paling berpengalaman hingga pada usia 19 tahun beliau telah siap menggantikan ayahnya menjadi sultan. Pada usia 21 tahun beliau memimpin pasukannya untuk menaklukkan Konstantinopel dan terbuktilah hadis di atas: Konstantinopel takluk!

SEDEKAH

Tajuk : Sedekah Tidak Mengurangkan Harta



Hadith : 

Daripada Abu Hurairah r.a berkata bahawa Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya : “ Sedekah tidak mengurangkan harta. Allah tidak melebihkan seseorang hamba dengan kemaafan-Nya melainkan kemuliaan dan tidak merendahkan diri seseorang melainkan Allah mengangkatnya.”


(Muslim, ad-Darimi dan Ahmad)



Huraian 


Dalam amalan bersedekah, kita perlu melakukannya dengan ikhlas kerana Allah, bukan disebabkan balasan nama atau sekadar bersedekah saja. Agar sedekah tidak menjadi sia-sia, Islam mengajarkan umatnya menyumbang dan bersedekah menepati erti ‘sedekah’ iaitu :


1. Sedekahlah dengan barang yang disenangi penerima. Allah melarang bersedekah dengan benda yang tidak baik kerana bersedekah adalah ibadat dan tanda mensyukuri nikmat Allah. Firman Allah yang maksudnya : “Wahai orang yang beriman! Belanjakanlah pada jalan Allah sebahagian daripada hasil usaha kamu yang baik dan sebahagian daripada apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu sengaja memilih yang buruk daripadanya lalu kamu dermakan atau kamu jadikan pemberian zakat, padahal kamu sendiri tidak sekali-kali akan mengambil yang buruk itu kalau diberikan kepada kamu, kecuali dengan memejamkan mata padanya. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Maha Kaya, lagi sentiasa terpuji.” (al-Baqarah: 267)


2. Sesuatu yang disedekahkan ialah yang halal, bukan haram atau subahat.


3. Sunat bagi pemberi sedekah atau penderma bersedekah dan menderma daripada benda yang disukai dan disayangi, tidak kira sama sedikit atau banyak sebagaimana firman Allah SWT yang maksudnya: “Kamu tidak sekali-kali akan dapat mencapai hakikat kebajikan dan kebaktian yang sempurna sebelum kamu dermakan sebahagian daripada apa yang kamu sayangi. Dan apa jua yang kamu dermakan maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (Ali-Imran:92)


4. Bersedekah dengan disertai keikhlasan, bukan mengungkit, merungut, membidas dan menyakiti hati orang yang menerima sedekah kerana perbuatan ini haram dan merosakkan amalan bersedekah.


5. Sedekah yang diberikan secara sembunyi lebih afdhal, ibarat tangan kanan yang memberi, tangan kiri tidak mengetahuinya.

LIMA PERKARA

LIMA PERKARA

BERBUAT DAN LAKUKANLAH DENGAN SEBAIK BAIKNYA. AMIN

Lima perkara semua kita mahukannya dan kita usaha utk mendapatkannya:-


1: Wajah yang cantik - solat subuh

2: Duit yang banyak - solat zohor

3: Kesihatan yang baik - solat asar

4: Anak2 yg cerdik dan berjaya macam kita - solat maghrib

5: Tidur yang nyenyak tanpa ganguan - solat isyak


Senang jer untuk mendapatkannya hanya 15 minit setiap hari .


Kata Nabi Muhammad S.A.W; siapa yang tinggalkan solat subuh tiadalah padanya nur di wajahnya dan siapa yang tinggalkan solat zohor tiadalah padanya rezki yang berkat dan barang siapa yang tinggalkan solat asar tiadalah padanya kekuatan badan dan siapa yang tinggalkan solat maghrib tiadalah padanya anak2 yg bermanfaat dan barangsiapa yang tinggalkan solat isyak tiadalah padanya tidur yang nyenyak . ( Sampaikanlah daripada nabi saw itu walaupun satu ayat )

' Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ' Surah Al-Baqarah ayat 286

BAGAIMANA MAHU IKHLAS

Bagaimana Mahu Ikhlas?


“Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba- Mu yang mukhlis (Ikhlas) di antara mereka.”
(QS, Shaad 38 : 82-83)

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahawa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis (ikhlas) di antara mereka.”
(QS Al-Hijr, 15 : 39-40)

Mengapa iblis tidak dapat menyesatkan orang-orang yang ikhlas? Kerana ketika kita ikhlas kerana Allah S.W.T, kita berserah apa sahaja kepada Allah S.W.T. Ketika itu kita tidak lagi berada di wilayah kekuatan kita tetapi di wilayah kekuatan dan kekuasaan Allah S.W.T. Kita mengikut dengan jiwa yang berserah kehendak Allah S..W.T. Mana mungkin iblis atau syaitan dapat menandingi kekuatan Allah S.W.T..

***

Orang yang ikhlas tidak memikirkan ikhlas atau tidak tetapi memikirkan tanggungjawab yang ditetapkan oleh Allah S.W.T itu telah dilaksanakan dengan baik atau belum. Itulah ikhlas dan ia hadir tanpa perlu difikirkan.

Tidak penting samada orang lain ikhlas atau tidak tetapi yang sangat penting adalah diri kita sendiri ikhlas atau tidak. Mari kita fahamkan tentang ikhlas dengan mengambil contoh kehidupan saya.

Jika saya bekerja kerana ingin mencari wang, maka saya bekerja ikhlas kerana wang.

Jika saya bekerja kerana ingin menyara anak-anak dan isteri saya, maka saya bekerja ikhlas kerana anak-anak dan isteri saya.

Ikhlas mesti mempunyai sandaran untuk apa saya melakukan sesuatu hal itu. Jika sandarannya wang, maka kita dikatakan ikhlas kerana wang kerana wang membuatkan kita melakukan kerja. Begitu juga dengan yang lain.

Persoalannya kini, apakah kita inginkan ikhlas yang sedemikian? Tidak! Kita tidak mahu kerana ikhlas yang sedemikian mempunyai tahap yang rendah. Lalu ikhlas yang bagaimana berada di tahap yang tinggi yang dikatakan oleh iblis sehingga tidak mampu menyesatkan kita?

Pastinya ikhlas KERANA ALLAH S.W.T. Apabila kita ikhlas kerana Allah S.W.T, pasti kita melakukan semua kerja kita kerana Allah S.W.T. Apabila kita ikhlas kerana Allah S.W.T, pasti ikhlas kita merangkumi semua termasuk kerana wang, anak-anak dan isteri, syarikat kita bekerja dan seluruhnya.

Nah! di sini terdapat satu lagi persoalan iaitu bagaimana melahirkan jiwa yang ikhlas? Apakah ia boleh dibuat-buat atau boleh diwujudkan?

***

Ikhlas tidak mampu dibuat-buat tetapi dapat diwujudkan dengan kesedaran.

Bagaimana membina kesedaran agar jiwa kita ikhlas?

Kembali kepada contoh kehidupan diri saya dan kemudian saudara aturkanlah contoh tersebut untuk kehidupan saudara.

Saya perlu SEDAR sepenuhnya tanggungjawab saya sebagai wakil Allah (khalifah) di muka bumi ini. Saya dijadikan oleh Allah S.W.T sebagai lelaki dan kini saya memiliki pelbagai tanggungjawab yang ditetapkan oleh Allah S.W.T. ke atas saya sebagai lelaki, suami, pekerja dan sebagainya.

Sebagai suami dan ayah, saya diberi tanggungjawab memastikan keluarga saya dilindungi, selamat, bahagia, cukup makan minum, tempat tinggal, pendidikan dan sebagainya. Saya SEDAR tanggungjawab ini adalah tanggungjawab yang Allah S.W.T. tetapkan sebagai seorang suami.

Sebagai suami dan ayah saya perlu mencari rezeki lalu saya bekerja. Bekerjanya saya ini adalah kerana tanggungjawab saya terhadap Allah S.W.T. Ini adalah ketetapan yang Allah S.W.T. tentukan ke atas seorang suami iaitu wajib mencari nafkah untuk keluarganya.

Dengan KESEDARAN segala kerja yang saya lakukan adalah kerana saya ingin mencari nafkah dan ia merupakan tanggungjawab yang ditetapkan oleh Allah S.W.T. pasti saya akan berusaha untuk melaksanakan tanggungjawab tersebut. Ini bukan satu paksaan tetapi kerana kesedaran saya ke atas tanggungjawab saya.

Maka dengan kesedaran inilah saya melaksanakan tanggugjawab saya kerana Allah S.W.T. Tanpa disedari, saya melakukannya kerana Allah S.W.T. ikhlas kerana Allah S.W.T.

Begitu juga semasa bekerja. Tugas yang diberikan kepada saya ketika bekerja merupakan amanah dan tanggungjawab saya kepada Allah S.W.T.

Saya perlu menyedari bahawa semua ini adalah tanggungjawab yang Allah S.W.T.tentukan kepada saya. Lalu saya perlu melaksanakan semua tanggungjawab ini kerana saya ini adalah wakil Allah S.W.T. Saya perlu mengikut kehendak Allah S.W.T.,kerana saya wakilNya.

Kesedaran tanggungjawab kita kepada Allah S.W.T. memastikan kita akan melaksanakan segala tanggungjawab kita kerana Allah S.W.T. INILAH IKHLAS.

Orang yang dekat dengan Allah S.W.T. memiliki kesedaran tertinggi akan hal Allah S.W.T. Mereka tidak pernah rasa kecewa di dalam melaksanakan tanggungjawab kerana Allah S.W.T.

***

Apabila kita memiliki kesedaran tertinggi, kita akan melaksanakan tanggungjawab kita kerana Allah S.W.T. Kita tidak melakukannya kerana pangkat dan wang namun pangkat dan wang merupakan keperluan. Ia membantu kita di dalam urusan menjadi wakil Allah S.W.T. iaitu khalifah di muka bumi ini.

Kita tidak salah dan tidak dilarang sama sekali untuk memiliki wang yang banyak, pangkat yang besar, rumah yang besar dan segala kekayaan yang ada. Namun kita juga diperintahkan agar berkongsi kekayaan tersebut dengan zakat, bersedekah dan sebagainya seperti yang ditetapkan oleh Allah S.W.T. di dalam Al-Quran dan Sunnah.

Setiap kerja kita diminta untuk dimulakan dengan “Dengan nama Allah S.W.T yang Maha Pengasih/pemurah dan Penyayang” menunjukkan bahawa kita melakukan kerja atas nama Allah S.W.T.

Kita di minta oleh Allah S.W.T mengakui bahawa tiada tuhan selain Allah S.W.T. dan Nabi Muhammad S..A.W Rasul Allah S.W.T. setiap kali kita bersolat untuk mengulangi semula persaksian kita pada Allah S.W.T.

Dengan kesedaran yang tinggi di atas tanggungjawab kita sebagai wakil Allah S.W.T. dalam setiap hal kecil atau besar walaupun menyampai sedikit ilmu pun, maka ia adalah kehendak Allah S.W.T. dan kita wakil Allah S.W.T. hanya berserah untuk melakukannya. Allah mengkehendaki kita menyampaikan ilmu yang kecil itu ketika itu lalu kita sampaikan dengan penuh tanggungjawab sebagai wakil Allah S.W.T. yang memiliki ilmu tersebut.

***

Tingkatkan kesedaran kita, pasti kita akan ikhlas di dalam melakukan kerja. Orang yang ikhlas tidak memikirkan ikhlas atau tidak tetapi memikirkan tanggungjawab yang ditetapkan oleh Allah S.W.T itu telah dilaksanakan dengan baik atau belum. Itulah ikhlas dan ia hadir tanpa perlu difikirkan.

KATA-KATA HIKMAH

KATA-KATA HIKMAH


1. “Barang siapa yang tidak menjaga DIRINYA, maka tidak bergunalah ilmunya……”
(Imam Ghazali)

2. Kalau manusia ini mengejar kasih Allah, tidak akan timbul perselisihan dan perbalahan. Jika manusia sesama manusia, mengejar kasih manusia, itulah rahsia manusia itu bersaing dan berbalah.

3. \”…Kemudian apabila sampai ajal mereka, tiadalah dapat mereka meminta dikemudiankan sesaat pun dan tidak pula mereka dapat meminta didahulukan.\”
(AnNahl:61)

4. Bukan senang nak jadi senang bukan susah nak jadi susah

5. Tiada masalah yang tidak boleh diselesaikan secara kebetulan atau suratan tetapi setiap masalah yang dicari mesti ada jalan tertentu bagi seseorang untuk menyelesaikannya melainkan diri sendiri yang menimbulkan masalah sendiri.

6. ….kadang-kadang dalam perjalanan merentasi menujunya yang satu, berbagai dugaan yang menimpa….meratah keimanan kita satu persatu….kekadang rasanya tak mampu…. kadang-kadang mahu beralah…..tapi di sana ada kebahgiaan hakiki….

7. Redha Allah itu bergantung kepada redha kedua ibu bapa dan marah Allah juga bergantung kepada marah kedua ibu bapa .

8. Hiburan itu tidak mesti membahagiakan tapi kebahagiaan itu sudah pasti menghiburkan.

9. Setiap manusia pernah merasai kejayaan dan juga kegagalan dan setiap kejayaan dan kegagalan yang dirasai oleh manusia mempunyai hikmah dan pengajarannya yang tersembunyi disebaliknya.

10. Ilmu mu yang manfaat,sedekah mu yang ikhlas dan orang yang soleh,itulah syarat yang dituntut di ALAM BAKA….

Friday, 7 February 2014

RENUNGAN HIKMAH

Dosa itu penyakit dan istighfar itu ubatnya

“Qatadah berkata, “Al-Quran memberi petunjuk kepada kamu tentang mana penyakit dan mana ubat bagi kamu semua. Adapun penyakit kamu semua adalah dosa, sedangkan ubatnya adalah beristighfar.”


Hati orang mukmin

“Hati orang mukmin itu bersih seperti cermin, tidak akan didatangi oleh syaitan dengan sesuatu (kejahatan) kecuali hati itu dapat melihatnya.” ~ Ibrahim bin Adham


Umur dan dosa

Abu Bakar al-Katani r.a. menceritakan bahawa ada seorang mengira sendiri kejahatannya. Pada suatu hari,  ia mengira tentang umurnya. Ia dapati umurnya enam puluh tahun. Ia mengira berapa hari umurnya itu, maka ia dapati umurnya sebanyak 21,240 hari. Tiba-tiba ia memekik sekuat-kuatnya lalu pengsan tanpa sedarkan diri. Apabila ia telah sedar maka ia berkata: “Alangkah ruginya, aku datang menemui Tuhan dengan membawa sebanyak 21,240 dosa. Ini pun jika aku melakukan satu dosa sahaja setiap hari. Bagaimana jika aku melakukan berbagai dosa yang tidak terkira setiap hari?”
Kemudian ia mengeluh panjang; “Aku sendiri yang salah dan bertanggung-jawab. Aku telah membangunkan dan memajukan duniaku tetapi aku meruntuhkan akhiratku. Aku telah menentang pelindungku, Allah Yang Maha Mengurnia. Kemudian aku sangat benci untuk berpindah dari kemajuan kepada kehancuran. Bagaimana aku akan datang di hari mengira amalan yang tercatit di dalam kitab catitan amal dan bagaimana aku menghadapi azab itu tanpa amal soleh dan pahala?”
Kemudian iapun menjerit sekuat-kutanya lalu jatuh ke bumi. Apabila orang ramai cuba menolongnya didapati ia telah mati. Semoga Allah memberi rahmat ke atasnya.
~ Petikan buku Membentuk Jiwa Sufi (Dr. Hj. Jahid Hj. Sidek)


Ulama terhijab dengan ilmunya

“Orang yang paling banyak terhijab (dari pelbagai ilmu yang lebih baik) ialah ulama, Maha Suci Allah SWT yang menghijab ulama dengan ilmu mereka sendiri.” 
~ petikan buku Membentuk Jiwa Sufi





Peringkat Taubat

Mengikut pandangan Syeikh al-Hujwiri, taubat itu ada 3 peringkat, iaitu at-tawbah, al-inabah dan al-awbah. At-tawbah ialah taubat orang awam mukmin dari dosa-dosa besar. At-tawbah ialah penyesalan dan kembali dari dosa besar kepada ketaatan. Orang yang bertaubat di peringkat inilah yang dikenali sebagai “taib”. Al-inabah ialah taubat golongan awliya dan al-muqarrabin. Al-inabah ialah penyesalan dan kembali dari dosa kecil kepada perkara yang disukai oleh Allah. Orang yang bertaubat di peringkat ini dikenali sebagai “munib”. Al-awbah ialah taubat para nabi dan para rasul. Al-awbah ialah penyesalan dan kembali dari memandang diri kepada Allah semata-mata. Orang yang bertaubat di peringkat ini dikenali sebagai “awab”  ~  Petikan Buku Membentuk Jiwa Sufi




Segeralah bertaubat

Imam al-Ghazali berkata: “Sesiapa yang tidak segera bertaubat dengan melambat-lambatkannya, ia berada di antara dua bahaya besar: Pertama, kegelapan maksiat itu akan bertompok-tompok di dalam hatinya hingga jadilah ia sebagai dinding yang menghalang, yang sangat keras, yang tidak boleh dihapuskan. Kedua, jika ia segera sakit atau mati, maka ia tidak dapat peluang dan masa untuk berusaha menghapuskan kegelapan dosa itu.”
Kebanyakan keluhan ahli neraka ialah disebabkan sifat berlambat 
lambat/berlengah-lengah tersebut dan kebanyakan jeritan mereka ialah: “Hai celakanya orang yang melambat-lambatkan. Tidaklah binasa (masuk neraka) orang yang binasa itu kecuali dengan bertangguh-tangguh dan tidaklah berjaya orang yang berjaya (masuk syurga) itu kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang sejahtera (qalbun salim).”
~ petikan buku Membentuk Jiwa Sufi




Bahagian anggota batin

“Kejadian manusia terbahagi kpd 2 bahagian iaitu zahir dan batin. Anggota batin atau basirah (mata hati/ pandangan hati/pandangan hati) secara ringkasnya pula terdiri drp 3 iaitu qalbun (hati), ruhun (ruh) dan sirrun (lubuk hati). Hati (qalbun) fungsinya untuk memahami ilmu, terutamanya yg sukar diterima oleh akal. Ruh untuk musyahadah, dan Sirr pula untuk menerima dan menyimpan tajalli (Nur Wujud Allah).” ~ Petikan buku Membentuk Jiwa Sufi



Syariat, Tariqat dan Haqiqat

“Imam Malik r.a. pernah berkata:
(Ertinya): “Siapa yang (beramal) dengan fiqah tanpa tasawuf maka ia jadi fasik, siapa yang bertasawuf sahaja tanpa fiqah maka ia jadi zindik, dan siapa yang telah (beramal) dengan memadukan kedua-duanya maka ia telah sampai kepada hakikat.”
tasbih
Al-Syariah itu adalah seperti kapal laut, iaitu menjadi sebab yang membawa kepada tercapainya maksud dan selamat daripada kebinasaan. Al-Tariqah pula seperti lautan yang terdapat di dalamnya berbagai bahaya yang menjadi tempat yang (mesti dituju dan dilalui) untuk sampai kepada maksud. Al-Haqiqah pula adalah seperti butir mutiara yang sangat berharga yang tidak tercapai kecuali di dalam lautan. Tentulah tidak boleh (lalu) di lautan itu kecuali dengan kapal laut. Maka, sesiapa yang melihat (dan merasakan) semua haqiqat sesuatu itu secara “billah” atau dengan kehendak, daya dan kekuasaan Allah SWT semata-mata, tahulah ia bahawa al-syariah dan al-haqiqah itu adalah sentiasa berkait rapat antara satu sama lain, seperti air bagi pokok dan ruh bagi jasad. Al-syariah adalah pokok, al-tariqah adalah dahan-dahannya, dan al-haqiqah adalah buah-buahnya. ~ Petikan Buku Membentuk Jiwa Sufi





Jenis-jenis Ayat Allah SWT

“Ayat-ayat Allah SWT ada 3 jenis, iaitu (1) ayat-ayat yang dibaca (al-ayat al- matluwah) iaitu ayat-ayat Al-Quran; (2) ayat-ayat yang dilihat dengan mata kepala (mata kasar) (al-ayat al-Mariyah); (3) ayat-ayat yang dilihat dan disaksikan oleh ruh atau mata hati atau basirah (al-ayat al-Mashhudah). Secara ringkasnya, ayat-ayat Allah SWT merangkumi syariat dan hakikat.” 
~ Petikan buku Membentuk Jiwa Sufi





Hakikat iman

“Baginda Rasulullah SAW bertanya kepada Harithah bin Malik : “Ya Harithah, sesungguhnya tiap-tiap ucapan ada hakikatnya, maka apakah hakikat ucapan engkau bahawa engkau beriman dengan sebenar-benarnya?”
Harithah menjawab: “Ya Rasulullah, nafsuku lari dari dunia, malam aku berjaga, siang aku berpuasa sehingga seolah-olah aku nampak penduduk syurga sedang menikmati berbagai kesenangan dan aku juga nampak penghuni neraka yang sedang meraung penuh azab.” 
~ petikan buku Membentuk Jiwa Sufi